Kamis, 03 September 2009

catatan seorang pelatih tim basket ( yang bpasti bukan saya )

Membangun sebuah tim selalu menjadi hal yang paling menggetarkan bagi saya. Setidaknya saya atau juga para pelatih Bolabasket dibayar untuk ini. Jelas pemain sangat berperan dalam permainan ini. Hingga pemilihan pemain di awal menjadi hal yang sangat penting bagi sebuah tim. Kadang penggabungan individu-individu (mental dan keterampilan) yang tepat akan membuat tim menyatu dengan sendirinya tanpa usaha lebih dari pembinanya. Kemenangan di dalam lapangan dan di dalam hidup (bermasyarkat) niscaya menghampiri tim dan para pemain di dalamnya. Saya selalu memulai pemilihan pemain dengan beberapa hal ini.

Mental

Klise, tapi ini selalu menjadi sisi runcing dalam segala hal yang berhubungan dengan kompetisi dan persaingan. Tentunya lebih mudah kalau pemain yang kita rekrut percaya akan Tuhan. Berangkat dari keluarga yang punya nilai-nilai dasar agama yang kuat juga akan sangat membantu perkembangan individu pemain. Saya sangat percaya dengan hal ini. Ini juga yang mungkin menjadi penyebab kenapa pada periodisasi latihan (fisik dan teknik) awal, sangat sarat dengan hal yg berhubungan dengan mental. Apalagi periodisasi mental, Jejeg abis koh!

Paling pertama saya pilih pemain dengan karakter mental yang baik. Dan kalau ternyata mentalnya buruk tapi kita lihat dia ada potensi untuk maju dan berkembang, bina mentalnya. Jangan lupa tiap individu bisa saja hanya sebuah produk dari masyarakat (lingkungan) kita sendiri. Atau yang lebih parah lagi individu itu hanya produk dari tim kita sendiri.

Mental adalah dasar dari semuanya. Dari sini kita bisa sesuaikan dan arahkan ke tiap posisi dalam tim. Beri latihan kekuatan yang hebat agar dia berotot mantap bermain dibawah keranjang, pasti semua acara latihan berat dia lalap. Tekankan level dan tidak sombong atau arogan dalam pertandingan yang sangat keras, dengan senyum dia lewati situasinya. Bantu mengingatkan prioritas (baca juga falsafah pelatihan..) dalam hidup untuk masa depannya, pasti jam malam dipatuhinya.

Gesit

Bukan cepat yang seperti sprinter 100m atau tercepat di panjang 28m lapangan basket, bukan. Yang saya cari adalah quickness bukan speed. Pemain yang aktif bereaksi membaca dan mengikuti aksi gerakan lawan. Setelah mental saya selalu pilih pemain dengan gerakan yang gesit ke kiri dan ke kanan, maju juga mundur dengan lekas (cak-cek). Saya ragu apakah sampai sini pembaca sudah menangkap maksud saya. Mudah-mudahan gesit mewakili definisi yang muter-muter dari tadi di kepala ini.

Latihan-latihan quickness lalu menjadi latihan favorit saya. Baik itu di track atau juga latihan teknik dilapangan dengan bola basket. Secara (Beeuuuuh.. secara!) kebanyakan pemain Indonesia terbatas akan tingginya, gesit menjadi sisi runcing berikut setelah mental. Pemain yang gesit akan sangat membantu dalam sebuah tim.

Cerdik

Saya beruntung (a.k.a: kebetulan)beberapa tahun lalu bisa membawa sebuah tim menjuarai Piala Bang Yos 2 tahun berturut. Dan saya sadar betul saat itu saya diberkahi dengan pemain-pemain yang cerdik. Dengan segala kekurangan kita saat itu Buls Bulungan bisa memaksimalkan kelebihannya. Demikian juga dengan Muba Hangtuah saat menjuarai KOBATAMA 2007 lalu. Senang sekali akan pemain yang mengerti situasi permainan. Saat itu hal ini kita kenal dengan istilah “Main Kalau”. Kalau waktu sudah menjelang habis kita akan bla, bla.. kalau mereka melakukan penjagaan zona kita akan jedar, jeder.. kalau pemain kunci lawan foul trouble di awal game kita akan pletak, pletuk..

Barangkali pintar dan tidak pintar dalam akademis bukan kasusnya disini. Saya tahu banyak pemain yang Index Prestasi di kampusnya tinggi tapi Basketbal I.Q-nya tidak sejalan dengan prestasi cemerlang akademisnya. Saya harap cerdik cukup mewakili apa yang saya maksud. Oh.. satu hal lagi! E.Q (Emosi) juga menjadi bagian dari cerdik dan tidak cerdik. Pemain cerdik menjadi piihan saya.

Terlalu mewah memang kalau kita bisa mendapatkan beberapa pemain dengan semua tiga kriteria utama di atas. Tapi mutlak (dan bukan tidak mungkin) adalah saat kita mengidamkan medali emas Asia Tenggara dari Tim Nasional kita. Saya pilih tiga diatas ini kalau kita betul-betul mau bersaing dan berbicara di luar. Teknik dasar yang baik, keterampilan yang sesuai sistem bermain si pelatih, ukuran tinggi juga besar badan, umur dan beberapa hal lain (kemauan sob edeg atau titipan rejenem timnas) pun menjadi dasar pemilihan. Buat saya sekali lagi tiga hal diatas menjadi yang utama dalam pemilihan pemain dalam tim. Beeuuuuh, mewah! Tapi gak harus mahal..